Rabu, 15 Mei 2013

Asumsi dari Teori Heckscher-Ohlin dan Arti dari Asumsi itu


Model Heckscher–Ohlin adalah model matematis perdagangan internasional yang dikembangkan oleh Eli Heckscher dan Bertil Ohlin. Model ini didasarkan dari teori keunggulan komparatif David Ricardo dan memprediksi pola perdagangan dan produksi berdasarkan jumlah faktor (factor endowment) suatu negara. Model ini pada intinya menyatakan bahwa suatu negara akan mengekspor produk yang menggunakan faktor yang murah dan berlimpah dan mengimpor produk yang menggunakan faktor langka.

Asumsi-asumsi dalam model ini adalah:
•           Kedua negara yang berdagang memiliki teknologi produksi yang identik
•           Output produksi harus memiliki skala hasil (return to scale) yang konstan
•           Mobilitas faktor
•           Persaingan sempurna

Implikasi dari model ini adalah
•           Teorema Heckscher–Ohlin: ekspor negara yang memiliki sumber daya modal yang berlimpah akan berasal dari industri yang menggunakan sumber daya modal secara intensif, dan negara yang memiliki sumber daya buruh yang berlimpah akan mengimpor barang tersebut dan mengekspor barang yang menggunakan tenaga buruh secara intensif sebagai gantinya.
•           Teorema Rybczynski: ketika jumlah satu faktor produksi meningkat, produksi barang yang menggunakan faktor produksi tersebut secara intensif akan meningkat relatif kepada peningkatan faktor produksi (karena model H-O mengasumsikan persaingan sempurna, yang di dalamnya harga sama dengan biaya faktor produksi). Teorema ini mampu menjelaskan efek imigrasi, emigrasi, dan investasi modal asing.
•           Teorema Stolper–Samuelson: liberalisasi perdagangan mengakibatkan faktor yang berlimpah, yang digunakan secara intensif dalam industri ekspor, memperoleh keuntungan sementara faktor yang langka, yang digunakan secara intensif dalam industri yang harus berkompetisi dengan barang impor, mengalami kerugian.
•           Penyetaraan harga faktor: perdagangan bebas dan kompetitif akan mengakibatkan penyetaraan harga faktor bersamaan dengan harga barang yang didagangkan.
Namun, pada tahun 1954, Professor Wassily W. Leontief menemukan bahwa Amerika Serikat, negara yang sumber daya modalnya berlimpah, mengekspor komoditas yang menggunakan buruh secara intensif dan mengimpor komoditas yang menggunakan modal secara intesif, sehingga bertentangan dengan model ini. Permasalahan ini dijuluki sebagai paradoks Leontief.

 yang dimaksud dengan Negara buruh berlimpah dan modal berlimpah

Pertumbuhan ekonomi adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Pada masa ini, kebutuhan manusia semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif akibat perkembangan peradaban. Peningkatan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi sendiri sehingga diperlukan pembagian kerja yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Pembagian kerja ini menimbulkan pertukaran barang dan jasa. Pertukaran barang dan jasa pada masa ini belum didasari oleh tujuan untuk mencari keuntungan, namun semata-mata untuk saling memenuhi kebutuhan. Masa kerajinan dan pertukangan memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut:
•           Meningkatnya kebutuhan manusia
•           Adanya pembagian tugas sesuai dengan keahlian
•           Timbulnya pertukaran barang dan jasa
•           Pertukaran belum didasari profit motiv
•           Masa kapitalis
Pada masa ini muncul kaum pemilik modal (kapitalis). Dalam menjalankan usahanya kaum kapitalis memerlukan para pekerja (kaum buruh). Produksi yang dilakukan oleh kaum kapitalis tidak lagi hanya sekedar memenuhi kebutuhanya, tetapi sudah bertujuan mencari laba. Werner Sombart membagi masa kapitalis menjadi empat masa sebagai berikut:

•           Tingkat prakapitalis, masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:
1.         Kehidupan masyarakat masih statis
2.         Bersifat kekeluargaan
3.         Bertumpu pada sektor pertanian
4.         Bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri
5.         Hidup secara berkelompok

•           Tingkat kapitalis, masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:
1.         Kehidupan masyarakat sudah dinamis
2.         Bersifat individual
3.         Adanya pembagian pekerjaan
4.         Terjadi pertukaran untuk mencari keuntungan

•           Tingkat kapitalisme raya, masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu:
1.         Usahanya semata-mata mencari keuntungan
2.         Munculnya kaum kapitalis yang memiliki alat produksi
3.         Produksi dilakukan secara masal dengan alat modern
4.         Perdagangan mengarah kepada ke persaingan monopoli
5.         Dalam masyarakat terdapat dua kelompok yaitu majikan dan buruh

•           Tingkat kapitalisme akhir, masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu :
1.         Munculnya aliran sosialisme
2.         Adanya campur tangan pemerintah dalam ekonomi
3.         Mengutamakan kepentingan bersama

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar